Jumat, 16 Juli 2010

SAHABAT YANG KUINGINKAN


Ehm…dihari-hari yang begitu panas terasa di kota solo, yang baru ku tinggalli sekitar 7 th. Ku lihat dipinggiran jalan sepulang kuliah, ach banyak banget muda-mudi yang perpasangan dengan tidak muhrimnya batin ku dalam hati. Tak jauh dari jangkau pandanganku, aku melihatnya teman perjuanganku saat menempuh pendidikan di asrama dulu sedang berboncengan dengan laki-laki yang tidak muhrim dengannya, aku hanya bisa berulang-ulang mengucap istighfar dalam hati. Dalam perjalanan menuju kost ku yang tak begitu jauh dari kampus, aku pun bergejolak dengan pikiran dan hatiku, aku sangat mengingat wajahnya yang malu-malu karena aku telah memergokinya sedang berboncengan dengan “pacarnya”. Dalam batinku aku hanya bisa berkata, apakah ia lupa akan Allah, apakah ia tak malu dengan Nya. Hanya doa-doa yang tak terdengar yang dapat ku lantunkan, semoga hidayah untukmu teman ku. Sesampainya aku ditempat singgahku “kost” ku sibahkan tubuhku di atas kasur yang tak begitu empuk (karena kapas kasur telah ditelan waktu), wajah itu masih terngiang jelas dalam mata batinku, ku masih mengingat jelas kata-kata ia ketidak setujuannya akan pacaran dikalangan muda-mudi, tapi kini ia mengingkari kata-katanya dahulu aku menangis dalam hati. Teman kau bukanlah teman yang dulu ku kenal, berulang-ulang aku mengutuk diri ku sendiri yang tak dapat menyelamatkanmu “maaf teman ku telah lalai atas mu”.

Sore hari yang begitu indah apabila dihiasi oleh kemalasan untuk beraktifitas, namun aku harus manggerakkan tubuh ini untuk berjalan ke kampus menghadiri kajian yang diadakan LDK. Rasa lelah yang masih menyeruak dalam tubuhku membuat aku tak bersemangan untuk menggerakkan kaki-kaki ku untuk berjalan, namun aku harus melawan kemalasan itu yang akan terganti dengan nilai indah yang diberi Allah SWT. Sesampainya di masjid, subhanallah telah ramai dengan orang-orang yang luar biasa ternyata aku kalah dihadapan mereka. Tiba-tiba datanglah –ku sebut dengan mbak A- menghampiriku, menjabat tanganku –tangan yang hangat, batinku- ,ehm itulah awal perkenalanku dengannya begitu cantiknya ia yang terbalut dengan jilbab besar yang aku pribadi belum mampu untuk itu. Lama-kelamaan kami pun menjadi teman akrab, ia tak bosan-bosannya memberikan tausiyah-tausiyah yang luar biasa untukku.

Lama ku tak mendengar kabar darinya, bagaimana keadaan dan posisinya sekarang. Setiap ku mengirim sms padanya tak ku dapati balasan darinya. Lamaaaaa… ku dengar kabar yang begitu berat tentangnya dari seorang teman ku yang lain, seperti benda yang ber ton-ton beratnya telah menimpaku. Mbak A telah mengidap penyakit yang cukup parah kanker otak setadium 4, berulang-ulang ku menyubut asma Allah untuk menenangkan batinku. Kini ia sedang berbaring di rumah sakit, dalam keceriaannya ia menyimpan kesakitan yang teramat “mbak aku saying kamua karena Allah” batinku. Dalam setiap sujud panjangku, aku mendoakan yang terbaik baginya dan kesehatan untuknya. Namun Allah berkata lain, Allah telah memanggilnya kembali untuk bercinta dengan Nya di akherat sana. Dengan penuh keikhlasan aku melihat kepergiannya dengan air mata yang tak dapat ku control untuk berhenti. Ku pandangi wajah ceria itu dalam tubuh kakumu, semoga tempat terbaik bagi mu mbak…..




Chyun_asc . Surakarta, 170710